RSS
Wecome to my Blog, enjoy reading :)

Senin, 17 Mei 2010

Praktikum Pembelahan Mitosis

Praktikum kali ini berjudul pembelahan mitosis. Mitosis adalah pembelahan sel yang terjadi secara tidak langsung. (Setjo, 2004). Hal ini dikarenakan pada pembelahan sel secara mitosis terdapat adanya tahapan-tahapan tertentu. Tahapan-tahapan yang terdapat pada pembelahan mitosis ini meliputi: profase, metafase, anafase, dan telofase. Praktikum ini bertujuan untuk mengamati dan menjelaskan siklus tahapan siklus sel, terutama tahapan pembelahan mitosis. Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah mikroskop cahaya, ujung akar bawang merah (Allium cepa), kaca benda dan kaca penutup, kertas hisap, pipet, tisu, pinset, alcohol 70 %, gelas arloji, FAA, Silet berkarat, HCl 1 N, acetocarmin, botol ampul, pembakar spiritus, korek api, dan karet. Mitosis ini terjadi di dalam sel somatik yang bersifat meristematik yaitu sel-sel yang hidup terutama sel-sel yang sedang tumbuh (ujung akar dan ujung batang). Pada percobaan ini menggunakan akar bawang merah (Allium cepa), karena jaringan akar bawang merah merupakan jaringan yang mudah ditelaah untuk pengamatan mitosis.
Di dalam praktikum ini terdapat 3 tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pengamatan.
Tahap persiapan adalah tahap penumbuhan akar bawang merah (Allium cepa) dan pemotongan akar bawang merah (Allium cepa). Penumbuhan akar dilakukan di dalam gelas plastik yang berisi air selama 1 minggu (7 hari) dengan cara menusuk bagian tengah bawang merah secara horisontal sedemikian rupa sehingga hanya bagian akarnya saja yang menyentuh air. Pemotongan ujung akar bawang dilakukan pada malam hari sebelum praktikum pukul 00.000 karena pada ujung akar bawang banyak sel yang mengalami aktivitas dengan rentang 5 menit sebelum dan sesudah pukul 00.00 (Margono, 1973). Sehingga dalam pemotongan akar dari bawang merah harus dipotong pada jam sekitar 00.00. Akar dipotong sepanjang 1 cm dari ujung dan selanjutnya akar direndam dalam botol ampul yang sudah diisi dengan larutan FAA yang berfungsi untuk menghentikan aktivitas pembelahan dan mempertahankan kondisi sel-sel akar bawang seperti saat pemotongan. Botol ampul tersebut lalu ditutup rapat dengan plastik dan diikat dengan karet.
            Tahap selanjutnya adalah tahap pelaksanaan yang meliputi pembuatan reparat dan pengamatan fase-fase mitosis di bawah mikroskop. Untuk pembuatan preparat dilakukan dengan cara mengambil potongan ujung akar bawang merah (Allium cepa) dari botol ampul dengan pinset. Kemudian memindahkannya ke dalam gelas arloji dan menambahkan alkohol 70 % dan membiarkannya selama 2 menit. Perendaman ini bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa FAA yang masih terdapat di dalam sel-sel akar bawang merah.

 
Setelah 2 menit, alkohol 70% dihisap dengan menggunakan tisu.

Kemudian menambahkan larutan HCl 1 N dan merendamnya selama 5 menit, hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam memotong tudung akar bawang merah karena dalam perendaman dalam HCl dapat memperjelas batas tudung akar dengan sel-sel di atasnya, serta dapat melunakkan dinding sel sehingga mudah untuk diamati.

Setelah 5 menit berlalu, mengambil potongan akar bawang dari gelas arloji, memotong bagian ujung (tudung akar) dan meletakkannya pada kaca benda. Langkah selanjutnya adalah menetesi dengan acetocarmin yang berfungsi untuk pewarnaan. Mewarnainya dengan zat pewarna yang sesuai akan tampak kromosom-kromosom dalam sel-sel yang membelah diri (Kimball, 1983). Ujung akar bawang lalu dicacah dengan silet berkarat yang kemudian ditutup dengan kaca penutup. Silet berkarat mengandung FeCl3 yang dapat teroksidasi sehingga mampu menyerap air dan membantu proses pengikatan zat warna pada acetocarmin.
            Tahap yang terakhir adalah tahap pengamatan. Sebelum diamati di bawah mikroskop preparat dilewatkan di atas lampu spiritus. Kemudian menggilasnya dengan jempol baru kemudian diamati di bawah mikroskop. Pada tahap pengamatan ini preparat yang dibuat kelompok tidak dapat terlihat di bawah mikroskop dikarenakan ada kesalahan di dalam pembuatannya. Pengamatan kemudian menggunakan preparat awetan. Dari semua preparat awetan yang ada hanya terdapat satu fase pembelahan mitosis yaitu telofase.


Ciri paling menonjol pada hasil pengamatan adalah sel yang intinya (kromosom) sudah terpisah sempurna namun dinding selnya belum terpisah secara sempurna. (membelah menjadi 2). Pengamatan yang tidak teramati adalah fase profase, anafase, dan telofase.

Siklus mitotik dari sebuah sel dapat dibedaan atas dua stadium, yaitu stadium istirahat (interfase) dan stadium pembelahan (mitosis). Pembelahan mitosis merupakan pembelahan sel yang terjadi apabila sel anak mempunyai jumlah kromosom sama dengan jumlah kromosom induknya. Fase-fase pembelahan mitosis adalah profase, metafase, anafase, dan telofase. Dalam sekali membelah terdapat interfase. Selama interfase tidak tampak adanya struktur kromosom dan pada fase ini sel belum melakukan kegiatan pembelahan tetapi sel sudah siap untuk membelah. Selama interfase sel tampak keruh dan benang-benang kromatin halus lama-kelamaan akan kelihatan. Beberapa ahli menganggap interfase bukan merupakan salah satu tahap dalam mitosis sehingga interfase sering disebut fase istirahat. Pada fase istirahat ini membrane inti tidak tampak jelas jika diperiksa dengan menggunakan mikroskop cahaya. Stadium interfase dibedakan atas beberapa fase:
a.      G1 (Fase gap pertama)
Fase ini berlangsung antara 12-24 jam. Fase ini disebut fase kekosongan pertama karena selama fase ini tidak ada kegiatan pembelahan nukleus. Nukleus membesar dan sitoplasma bertambah, karena itu fase ini disebut juga fase pertumbuhan.
b.      S (stadium sintesa)
Pada stadium ini terjadi replikasi ADN uga berlangsung pementukan histon. Pada akhir stadium ini tiap kromosom terdiri dua kromatid kakak beradik (sister chromatids) yang memiliki sentromer bersamaan. Ini merupakan aktivitas yang paling penting dari stadium S. Stadium ini memakan waktu 35-35% dari siklus interfase.
c.       G2 (fase gap kedua)
Pada fase ini ADN cepat sekali bertambah kompleks dengan protein kromosom dan pembentukan ARN (asam ribonukleat) serta protein berlangsung. Fase ini memakan waktu kira-kira 10-20% dari siklus interfase.

 
Pada pembelahan mitosis terdapat 4 tahap fase pembelahan, yaitu profase, anafase, metafase, dan telofase.
Pada profase, ditandai dengan hilangnya nucleus dan diganti dengan mulai tampaknya pilinan-pilinan kromosom yang terlihat tebal.

Profase dimana tahapan pembelahan pertama, permulaan profase – profase kromosom menjadi lebih pendek dan tebal. Pada akhir profase mulai terbentuk benang – benang spindel/ gelendong inti pada masing – masing kutub sel, yang letaknya berlawanan. (Suryo,1997).
Pada tahap ini yag terpenting adalah benang-benang kromatin menebal menjadi kromosom dan mulai menduplikasi menjadi kromatid.
Ciri-cirinya:
Ø  Kromosom mengerut dan menebal. Pemendekan ini akibat dari berpilinnya kromosom.
Ø  Terlihat dua sister chromatid dan kromosom tampak rangkap dua.
Ø  Kromatid-kromatid dihubungkan oleh sentromer.
Ø  Nukleolus menjadi kabur dan hilang oleh sentromer.
Ø  Selaput inti mulai menghilang.
Ø  Benang gelendong mulai terbentuk
Ø  Kromosom mulai bergerak ke tengah atau equator dari sel.
 
 
Pada metafase, kromosom menyusun diri secara acak pada satu bidang ekuator atau tengah-tengah sel. Pada awal fase ini, membran nukleus dan nukleolus lenyap. Sentromer, suatu daerah vital bagi pergerakan kromosom, melekat pada serabut gelendong yang bertanggung jawab terhadap arah pembelahan kromosom selama pembelahan (Welsh dan Mogen 1991).
 
Metafase dicirikan oleh barisan kromosom yang amat rapi sepanjang bidang equatorial (Fried, 2006). Pada tahapan ini sedikit terlihat adanya gambaran benang – benang spindelnya.
Pada tahap ini kromosom atau kromatid mudah diamati atau dipelajari. Ciri-ciri fase ini adalah:
Ø  Benang-benang gelendong menjadi jelas pada permulaan metafase dan teratus seperti kumparan.
Ø  Masing-masing kromosom terletak berbaris pada bidang equator.
Ø  Sentromer melekat pada benang gelendong. Beberapa benang gelendong mencapai kutub tanpa melekat pada sentromer.
Ø  Sentromer membelah dan masing-masing kromatid menjadi kromosom tunggal. Metafase akhir


Pada anafase, kromosom yang mengumpul di tengah sel terpisah dan mengumpul pada masing-masing kutub, sehingga telihat adal dua kumpulan kromosom.
Fried (2006) menyatakan bahwa pada awal anafase sentromer – sentromer masing – masing kromosom berpisah, sehingga masing – masing kromatid kini berupa kromosom yang terpisah. Dengan dipandung oloeh serat gelendong yang melekat padanya. Satu kromatid dari setiap pasang digerakkan ke salah satu kutub, sementara kromatid yang satunya digerakkan ke kutub yang berlawanan. Pembelahan sentromer menurut Suryo (1997) dapat pula berlangsung pada permulaan anafase. Benang – benang gelendong ini memendek sehingga belahan sentromer masing – masing bergerak ke kutub sel yang berlawanan dengan membawa kromatid.
Ciri-cirinya:
Ø  Dua sister chromatid (sekarang kromosom) bergerak ke arah kutub yang berlawanan. Sentromernya tertarik karena kontraksi dari benang gelendong.
Ø  Selain itu mungkin ada gaya tolak menolak dari belahan sentromer itu.
Ø  Terjadi penyebaran kromosom dan ADN yang seragam di dalam sel.
Ø  Anafase adalah fase terpendek dari fase-fase mitosis.
Pada akhir anafase sekat sel mulai terbentuk dekat bidang equator.


Pada telofase, terjadi peristiwa kariokinesis (pembagian inti menjadi dua bagian) dan sitokinesis (pembagian sitoplasma menjadi dua bagian).
Telofase pada fase ini pembelahan telah selesai, terbentuk lagi dinding inti, dan hal ini terlihat dalam praktikum. Sel telah terbagi menjadi dua sel anakan, masing – masing memiliki inti yang mengandung 4 kromosom dengan bahan genetik yang sama dengan induknya (Suryo, 1997).

Ciri-cirinya adalah
Ø  benang-benang gelendong hilang
Ø  selaput inti dan nukleolus terbentuk kembali
Ø  sekat sel terbentuk kembali dan sel membelah menjadi dua sel anakan.
Ø  terjadi sitokinesis, semua benda-benda dalam sitoplasma membelah dan pindah ke dalam sel anak.

Pembelahan pada sel normal berbeda dengan pembelahan pada sel kanker. Sel kanker ditandai dengan pembelahan sel yang tidak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak terkendali tersebut disebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembelahan sel. Sel kanker memiliki beberapa ciri khas yang membedakan dari sel normal. Ciri khas sel kanker yang pertama adalah adanya sinyal pertumbuhan yang cukup dari sel itu sendiri. Sel normal memerlukan sinyal pertumbuhan dari luar, sedangkan sel kanker tidak. Sel kanker juga kurang peka terhadap sinyal penghambat pertumbuhan sehingga pertumbuhannya tidak terkendali. Ciri lainnya adalah sel ini dapat melakukan invasi dan metastasis, tidak terbatas replikasinya. Pertumbuhan dan perbanyakan dari sel-sel normal diatur tepat sesuai dengan kebutuhan hidup suatu individu. Pada sel normal, apabila beberapa sel setelah berkembang membentuk jaringan baru, pertumbuhan akan terhenti. Akan tetapi pada sel-sel kanker sel-sel akan berkemang terus menerus dan membentuk jaringan yang terdiri dari beberapa lapis sel yang bertumpuk-tumpuk. (Suryo, 2005)
  

Sumber:
Campbell. 1999. biologi jilid 1 edisi kelima. Erlangga: Jakarta
Crowder, L.V. 1997. Genetika Tumbuhan. UGM Press: Yogyakarta 
Fried, George. H. 2006. Schaum’s out Lines Biologi Edisi kedua. Erlangga: Jakarta
Goodenough, A. 1984. Probabilitas Variabel Random dan Proses Statistik. Gadjah Mada Unversity Press: Yogyakarta
Kimball. 1998. Biologi. Erlangga: Jakarta
Suryo. 2001. Genetika Manusia. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
Sudjadi, Bagod. 2002. Biologi Sains dalam Kehidupan. Surabaya: Yudhistira.
Kimball, J. W. 1994. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Crowder, L. V. 1988. Genetika Tumbuhan. Yogakarta: UGM Press.
Setjo, Susetyoadi. 2004. Anatomi Tumbuhan. Malang: JICA.
Rukmana, Rahmat. 1994. Bawang merah dan Bawang putih. Jakarta: Kasius.
Kimball, J. W. 1994. Biologi Jilid 1. Jakarta Erlangga.
Crowder, L. V. 1988. Genetika Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.
Margono, Hadi. 1973. Pengaruh Colchicine terhadap Pertumbuhan Akar Bawang Merah. Malang: IKIP Malang
 (http://www.slideshare.net/zyzyan/histoteknik-dasar). Diakses tanggal 21 Oktober 2009.







0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright 2009 sinau online Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Ezwpthemes